Blog

Latest News About Vogue

TEKANAN DARAH TINGGI, BOLEHKAH CABUT GIGI?

Posted at December 26, 2013 | By : admin | Categories : Blog | 0 Comment

Pasien seringkali datang ke dokter gigi untuk mencabut giginya, akan tetapi dokter gigi menolak dengan alasan tekanan darahnya sedang tinggi. Kenapa tekanan darah bisa berpengaruh pada proses pencabutan gigi?

Secara umum tekanan darah yang terukur melalui tensimeter merupakan parameter dasar yang menunjukkan status jantung dan sirkulasi darah pasien. Tekanan darah melibatkan 2 pengukuran, yaitu sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100-140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60-90 mmHg. Tekanan darah tinggi (hipertensi) terjadi bila terus menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih.

Alasan paling utama, penderita hipertensi akan beresiko mengalami perdarahan jika tindakan bedah mulut / pencabutan gigi dilakukan sembarangan. Penderita hipertensi yang masuk dalam stage I (≤140/90) masih memungkinkan untuk dilakukan pencabutan gigi karena resiko perdarahan relatif terkontrol. Penderita hipertensi stage II (≥160/100) ada baiknya dirujuk terlebih dahulu kebagian penyakit dalam agar pasien dapat dipersiapkan sebelum tindakan bedah mulut dilakukan.

Resiko-resiko yang dapat terjadi pada pencabutan gigi pasien hipertensi, antara lain :

  1. Resiko akibat anestesi lokal

Larutan anestesi lokal yang biasa digunakan adalah lidokain dengan adrenalin. Larutan adrenalin yang diinjeksikan ke pembuluh darah bisa menimbulkan takikardi (berdebar-debar), stroke volum meningkat, sehingga tekanan darah menjadi tinggi. Resiko yang lain adalah terjadinya ischemia otot jantung (kekurangan oksigen pada otot jantung) yang menyebabkan angina pectoris (nyeri dada), jika berat berakibat fatal, yaitu infark myocardium (matinya otot jantung).

Adrenalin masih dapat digunakan asal kandungan tidak lebih atau sama dengan 1:200.000. dapat juga digunakan anestesi lokal lain, yaitu mepivacain 3% karena dengan konsentrasi tersebut mempunyai efek vasokonstriksi ringan sehingga tidak perlu campuran vasokonstriktor.

 

  1. Resiko akibat pencabutan gigi

Komplikasi akibat pencabutan adalah perdarahan yang sulit dihentikan. Perdarahan bisa terjadi dalam bentuk perdarahan yang sulit dihentikan saat dilakukan tindakan pencabutan gigi, atau bisa berupa oozing (rembesan darah) yang membandel setelah tindakan pencabutan.

Pendarahan yang terlalu banyak, bisa mengakibatkan menurunnya angka hemoglobin atau sel darah merah, sehingga penderita bisa kekurangan darah.

Hal ini juga dapat diperparah oleh penggunaan adrenalin dalam larutan anestesi lokal yang merupakan vasokonstriktor yang menyebabkan pembuluh darah menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat, pembuluh darah kecil akan pecah, sehingga terjadi perdarahan. Apabila kita tidak menggunakan vasokonstriktor, darah tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca pencabutan.

 

  1. Resiko pengobatan pada penderita hipertensi

Penting juga ditanyakan kepada pasien apakah mengkonsumsi obat-obatan pengencer darah, dan obat-obat lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan.

Penting dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum tindakan bedah mulut / pencabutan gigi. Jika pasien ada riwayat hipertensi, maka saat dilakukan pencabutan harus dalam keadaan terkontrol tekanan darahnya, pasien masuk dalam hipertensi stage I, maksimal tekanan darah 140/90. Jika tekanan darah pasien tinggi, pencabutan gigi sebaiknya ditunda dan pasien dirujuk ke dokter ahli penyakit dalam untuk mengontrol tekanan darah.

 

 

 

 

About admin

Leave a Comment